Pelayanan publik masih menjadi indikator terburuk dibeberapa instansi atau unit usaha didekat kita. Wajah ini sering kita dapati pada decade sebelum ini, walaupun sekarang perlahan sudah mulai membaik. Pameo yang dihapal masyarakat adalah kalo urusan dipersulit mengapa harus dijadikan mudah?
Jadi ingat pertama kali ketika datang ke Jepang, waktu itu kejadiannya di gedung balaikota. Hari itu adalah hari pertama saya menginjakkan ditanah sakura, sekitar jam delapan pagi tepatnya. Sebagai orang asing dan merencanakan tinggal dengan jangka lama, kami hendaknya melaporkan diri ke balaikota daerah setempat. Sehubungan jet lag karena perjalanan jauh yang cukup melelahkan, 3 kali transit pesawat ditambah masuk angin karena badan ini memang ndeso (pas musim winter saat itu), sorean dikit sajalah lapornya.
Sore, sekitar jam 4an kami menuju kantor balaikota. Dalam perjalanan mbatin diri saya, apa iya kantor pemerintahan masih buka jam segini? paling-paling disuruh pulang kitanya nanti. Datang besok saja! hihihi… kan biasanya gitukan ya? Sekitar 15 menit diperjalanan akhirnya sampai juga. Kaget diri saya ternyata kantornya buka dan didalamnya aktivitas tetap tinggi. Akhirnya lapor sana-sini serta buat ini itu, kelar juga urusan hampir 2 jam kurang lebih. Alhamdulillah, masalah bahasa tidak terlalu berpengaruh asalkan surat-surat lengkap. Yang penting kalau salah nunjukin dokumen, tinggal dibeber saja mana yang dibutuhkan. hihihi… Orang-orangnya benar-benar cekatan dan sangat welcome, tidak usah dibandingin dengan republik mimpi. Pelayanan masyarakat sampai jam 6 sore, semua biaya jelas, urusan cepat yang pokoknya tidak saya ketemukan direpublik mimpi!
Pengalaman lain adalah ketika anak saya sakit. Di Jepang sini anak yang belum masuk SD, semua masalah pendidikan dan kesehatan ditanggung pemerintah. Pokoknya mau sakit apa saja gratis, tapi ya namanya sakit ya tetap nggak enak kan walaupun gratis. Waktu itu setelah dari dokter, kami diberi resep obat dan untuk mengambilnya di Apotik. Setelah menyebrang jalan, kami menuju Apotik terdekat. Surprise menunggu saya! Apa itu? Petugas Apotik sudah berdiri didepan pintu untuk menyambut kami dan sekaligus meminta resepnya untuk diproses (dilain waktu saya malahan melihat, mereka berlari menyambut didepan pintu). Setelah menunggu ditempat duduk, sedangkan anak disudut tempat bermain kurang lebih 15-20 menit obat sudah siap. Surprise kedua! Biasanya direpublik mimpi bila obat sudah jadi kami dipanggil kedepan untuk mengambilnya, sedangkan yang ini tidak! Mereka yang datang ketempat duduk kami, dengan berjongkok mereka menjelaskan dengan sangat sopan dan pelan dengan bahasa yang paling mudah dimengerti. Kami saja menjadi jengah mendapat perlakuan seperti ini, sepertinya sangat berlebihan. Ini yangnamanya gratis namun tidak murahan (bukan seperti iklan Selular).
Kesimpulan akhir, mungkin kalimat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang tinggi luhur budi pekertinya harus segera dicoret dari buku-buku pelajaran kita. Kalimat ini membuat kita lupa, dan membuat kita yakin bahwasanya kita ini sudah tinggi sehingga sudah merasa cukup. Padahal??